Perbedaan Membaca Literat, Kritis dan Kreatif

Posted on

Perbedaan Membaca Literat, Kritis dan Kreatif – Dilihat dari jenjang kedalamanny atau tingkat levelnya membaca dapat dibagi menjadi 3 jenis, yakni membaca literat, membaca kritis dan membaca kreatif. Ihwal ketiga jenis membaca penjelasannya sebagai berikut:

A. Membaca Literal

Membaca literat merupakan kegiatan membaca sebatas mengenal dan menangkap arti (meaning) yang tertera seecara tersurat (eksplisit). Artinya, pembaca hanya berusaha menangkap informasi yang terletak secara literal (reading the lines) dalam bacaan dan tidak berusaha menangkap makna yang lebih dalam lagi, yakni makna tersiratnya, baik dalam tataran antar baris (by the lines) apalagi makna yang terletak dibalik barisnya (beyond the lines).

Dalam taksonomi membaca pemahaman, kemampuan membaca literal merupakan kemampuan membaca yang paling rendah, karena selain pembaca lebih banyak bersikap pasif juga tiak melibatkan kemampuan berpikir kritis. Dengan perkataan lain, ketika melakukan proses membaca, sang pembaca hanya berusaha menerima berbagai hal yang tersurat dari kata- kata yang dibacanya atau yang dikemukakan oleh pengarang. Oleh karena itu, untuk pengukuran pemahaman jenis membaca level ini, kita dapat menggunakan kata- kata kunci pertanyaan: apa, siapa, dimana atau kapan.

B. Membaca Kritis

Menurut Albert [et al] sebagaiman dikutip oleh H.G, Tarigan (1986:89) membaca kritis adalah sejenis kegiatan membaca yang dilakukan secara bijaksana, penuh tenggang hati, mendalam, evaluatif, serta analitis, dan bukan hanya mencari kesalahan belaka. Ahmad Slamet (1988:11.23) mengemukakan membaca kritis merupakan suatu strategi membaca yang bertujuan untuk memahami isi bacaan berdasarkan penilaian yang rasional lewat keterlibatan yang lebih mendalam dengan pikiran penulis yang merupakan analisis yang dapat diandalkan. Dengan membaca kritis, pembaca akan dapat mencamkan lebih dalam apa yang dibacanya, dan diapun akan mempunyai kepercayaan diri yang lebih mantap daripada kalau dia membaca tanpa usaha berpikir secara kritis.

Perbedaan Membaca Literal, Kritis dan Kreatif

Oleh karena itu menurutnya, memmbaca kritis harus menjadi ciri kegiatan membaca yang bertujuan memahami isi bacaan sebaik-baiknya. Menurt Ahmad Slamet (1988:11.3) untuk dapat melakukan kegiatan membaca kritis, ada empat macam persyaratn pokok, yakni:

  1. pengetahuan tentang bidang ilmu yang disajikan dalam bahan bacaan yang sedang dibaca;
  2. sikap bertanya dan sikap menilai yang tidak tergesa-gesa;
  3. penerapan berbagai metode analisis yang logis atau penelitian ilmiah;
  4. tindakan yang diambil berdasarkan analisis dan pemikiran tersebut.

Jika sorang pembaca memiliki keempat persyaratan pokok tersebut maka sorang pembaca kritis akan dapat menarik manfaat yang sssngat penting, antara lain:

  1. pemahaman yang mendalam dan keterlibatan yang padu sebagai hasil usah menganalisis sifat-sifat yang dimiliki oleh bahan bacaan;
  2. kemampuan mengingat yang lebih kuat sebagai hasil usaha memahami berbagi hubungan yang ada didalam bahan bacaan itu sendiri dan hubungan antara bahan bacaan itu dengana bahan bacaan lain atau dengan pengalaman membaca
  3. kepercayaan terhadap diri sendiri yang mantap untuk memberikan dukungan terhadap berbagi pendapat tentang isi bacaan.

Selanjutnya,Ahmad Slamet juga menyatakan dalam proses membaca kritis dikenal tiga cara membaca, yakni:

  1. membaca pada baris, yakni untuk dapat mengikhtisarkan keseluruhan bacaan dan mengenal bagian-bagian sebagai bahan pijakan yang kuat untuk memberikan penilaian terhadap isi bahan bacaan tersebut;
  2. membaca diantara baris, yakni menganalisis apa yang dimaksud oleh pengarang yang sesungguhnya, khususnya yang tersirat;
  3. dan membaca diluar baris, yakni untuk mengevaluasi relevansi ide-ide yang dituangkan didalam bahasan bacaan tersebut.

Kedua cara membaca diantara baris dan membaca diluar baris tersebut meliputi penggunaan emapat macam cara, yakni dengan menanyakan, menyimpulkan, menghubungkan, dan menilai/menempatkan.

Dengan jalan bertanya, pembaca membuat sebuah dialog denagn pengarang; dia melacak sebab- sebab yang menjadikan suatu ide tidak jelas, tidak runtut, ajeg, atau tidak relevan bahkan tidak dinyatakan sama sekali. Dengan jalan membuat kesimpulan inferensi, pembaca dapat menampakkan berbagai asumsi dan implikasi yang tersirat diantara baris. Pembaca sambil membaca membuat kesimpulan atau inferensi, pembaca dapat menampakkan berbagai assumsi dan implikasi yang tersirat diantara baris.

Pembaca sambil membaaca membuat hubungan antara pikiran yang satu dengan pikiran yang lainnya yang diungkapkan dalam bacaan itu atau pikiran- pikiran yang ada dalam karya tulis lainnya, ataupun dengan hal-hal yang pernah dialaminya, akan dapt melahirkan dasar-dasar untuk membandingkan berbagai macam pendapat. Dan dengan jalan menilai, pembaca akan sampai pada suatu pengambilan keputusan tentang nilai bahan bacaan berdasarkan ukuran-ukuran tertentu.

Penggunaan teknik membaca kritis memberikan manfaat berupa penilaian yang beralasan serta pemahaman mantap sebagai akibat keterlibatan yang mendalam dengan bahan bacaan. Teknik membaca kritis juga dapat membebaskan orang dari cengkeraman sikap berpikir yang sempit dan mengembangkan kemampuan untuk melihat dan menghargai keindahan, keteraturan, dan kebenaran, apapun yang membawa kepada kesempurnaan.

Aneka Kemampuan Untuk Meningkatkan Sikap Kritis

Nurhadi (1987: 145-181) memberikan jurus-jurus latihan untuk meningkatkann sikap kritis sebagai berikut :

(1) Kemampuan Mengingat dan Mengenal

Kemampuan-kemampuan yang termasuk ke daaalam kemampuan mengingat dan mengenali ini meliputi :

– Kemampuan mengenali ide pokok paragraf
– Mengenali tokoh-tokoh cerita berserta sifat-sifatnya
– Menyatakan kembali ide pokok paragraf
– Menyatakan kembali gagasan utama yang terdapat dala m bacaan
– Menyatakan kembalii perbandingan, unsur hubungan, sebab akibat, karakter tokoh dan sejenisnya.

(2) Kemampuan menginterpretasikn makna tersirat

Tidak semua gagasan yang terdapat dalam teks bacaan itu dinyatakan secara tersurat atau eksplisit pada baris kata-kata atau kalimat-kalimat. Seringkali pula,, gagasan serta makna tersebut terkandung di balik baris kata-kata atau kalimat-kalimat tersebut, dan untuk menggalinya diperlukan sebuah interpretasi dari pembacanya. Pembaca harus mampu memberikan ide-ide pokok dan ide-ide penunjang yang secra eksplisit tidak dinyatakan oleh pengarangnya, serta harus mampu memberikan fakta-fakta yang disajikan secara kritis.

Yang termasuk kemampuan ini antara lain :

– Kemampuan menafsirkan ide pokok paragraf,
– Menafsirkan gagasan utama bacaan,
– Menafsirkan ide-ide penunjang,
– Membedakan fakta-fakta atau detail bacaan,
– Memahami secara kritis hubungan sebab akibat,
– Memahami secara kritis unsur-unsur perbandingan.

(3) Kemampuan mengaplikasi konsep-konsep dalam bacan

Seorang pembaca kritis tidak boleh berhenti sampai pada aktivitas menggali makna tersirat melalui pemahaman dan interpretasi secara kritis saja, tetapi dia juga harus mampu menerapkan konsep-konsep yang terdapat dalam bacaan ke dalam situasi baru yang bersifat problematis.

Kemampuan-kemampuan pada tarap ini meliputi:
– Kemampuan mengikuti petunjuk-petunjuk yang terdapat dalam bacaan,
– Menerapkan konsep-konsep atau gagasan-gagasan utama bacaan ke dalam situasi baru yang problematis,
– Menunjukan kesesuaian antara gagasan utama dan situasi yang dihadapi.

(4) Kemampuan menganalisis isi bacaan

kemampuan menganalisis ialah kemampuan pembaca melihat komponen-komponen atau unsur-unsur yang membentuk suatu kesatuan. Sebagaimana kita ketahui, kessatuan dalam bacaan meliputi gagasan utama, kesimpulan-kesimpulan, pernytaan-pernyataan dan sebagainya, lalu pembaca diharapkan melihat fakta-fakta, detil-detil penunjang, atau unsur-unsur pembentuk yang lain yang tidak tersebutkan secara eksplisit.

Kemampuan menganalisis inti bacan ini meliputi hal-hal berikut:

  • Kemampuan memberikan gagasan utama bacaan,
  • memberi detil-detil atau data-data penunjang,
  • mengklasifikasikan fakta-fakta,
  • membandingkan antara gagasan yang terdapat dalam bacaan,
  • memberikan detil-detil atau data- data penunjang,
  • mengklasifikasikan fakta-fakta,
  • membandingkan antar gagasan yang terdapat dalam bacaan,
  • membandingkan karakteristik tokoh yang terdapat dalam bacaan.

(5). Kemampuan membuat sintesis

Kemampuan membuat sintesis merupakan kemampuan pembaca melihat kesatuan gagasan melalui bagian- bagiannya. Sebagaimana kita ketahui, sebuah teks bacaan, apapun bentuknya, pada dasarnya didalamnya membuat sebuah kesatuan gagasan yng bulat dan utuh. Hanya saja akibat cara dan gaya pengungkapan yang pengungkapannya yang berbeda terkadang gagasan atau pesan tersebut terlihat samar-samar atau berpencaran. Dalam kasus semacam itu, kewajiban pembaca adalah melakukan penyintesisan. Bentuk- bentuk penyintesisan tersebut, misalnya, berupa kesimpulan atau ringkasan, ide pokok, gagsana utama bacaan, tema atau kerangka karangan.

Secara rinci kemampuan tersebut meliputi:

  • kemampuan membuat kesimpulan bacaan,
  • mengorganisasikan gagasan utama bacaan,
  • mementukan tema karangan,
  • menyuseun kerangka karangan,
  • menghubungkan data-data sehingga diperoleh suatu kesimpulan,
  • membuat ringkasan atau ikhtisar.

(6). Kemampuan menilai isi bacaan

Kemampuan yang perlu disahkan berikutnya sebagai sarana pembentukan sikap kritis, yakni kemampuan menilai isi dan penataan bacaan secara kritis. Maksudnya, seorang pembaca kritis harus mampu melakukuan penilaian- penilaian terhadap keseluruhan isi bacaan melalui aktivitas- aktivitas mempertimbangakn, menilai, dan menentukan keputusan- keputusan. Caranya antara lain dengan mengajukan penilaian atas kebenaran gagasan atau pernyataan yang dikemukakan oleh penulis lewat pertanyaan- pertanyaan seperti: apakah pernyataan tersebut benar? Apa maksud yang ingin dituju oleh pengarang lewat tulisan yang dibuatnya tersebut?

Kemampuan menilai bacaan ini merupakan kemampuan tertinggi pada tingkatan intelektual seorang pembaca karena dia tidak begitu saja mempercayai terhadap apa-apa yang dibacanya sebelum dilakukan proses pengkajian terlebih dahulu. Secara rinci, kemampuan yang menyangkut sikap kritis dalam menilai bacaan, terutama terhadap aspek isi dan penggunaan bahasa dalam karangan ini meliputi:

  • kemampuan menilai kebenaran gagasan utama atau ide pokok paragraf atau bacaan secara keseluruhan,
  • kemampuan menilai dan menentukan bahwa pernyataan adalah sebuah fakta atau sekedar sebuah opini saja,
  • kemampuan menilai dan menentukan apakah sebuah bacaan diangkat berdasarkan realitas atau hanya didasarkan atas fantasi pengarangnya saja
  • kemapuan menentukan tujuan pengarang dalam menulis karangannya,
  • kemempuan menentukan relevansi antara tujuan dengan pengembangan gagasan, kemempuan menentukan keselarasan antara data yangdiungkapkan dengan kesimpulan yang dibuat oleh pengarang,
  • kemampuan menilai keakuratan penggunaan bahasa yang dilakukan oleh pengarang, baik pada tatar kata, frasa, kalimat, maupun pada tatar kalimat.

Untuk mengakhiri bahasan membaca kritis ini berikut akan dikutipkan uraian tjuh prosedur dengan komentarnya ihwal membaca kritis sebagaimana dikatakan oleh Ahmad Slamet (1988:11.20).

1. Berpikirlah secara kritis

Komentar : Membaca kritis menunutu aktivitas, kewaspadaan dan kebijaksanaan pembaca. Ini berarti apresiasi/penghargaan terhadap ketepatan penyajian penullis ataupun rencana terhadap segala kelemahan dan kekurangannya. Memikirkan membaca secara demikian m,emebri makna
tentang bedanya membaca itu dari sekedar membeo kata-kata pengarang.

2. Lihatlah apa yang ada dibalik kata-kata itu untuk mengetahui motivasi penulis dalam usahanya itu.

Komentar : Apa yang hendak diusahakan oleh penulis itu terhadap pikiran pembahasannya? Efek
apa yang dimiliki kata-kata penulis itu dalam usahanya mempengaruhi pembacanya. Kadangkadang
tampak perbedaan yang besar antara apa yang dikatakan pengarang dengan apa yang
dimaksud olehnya

3. Waspadailah terhadap kata- kata yang mempunyai sifat berlebihan: yang tidak tentu batasannya, yang emosional, yang ekstrim, atau yang merupakan generalisasi yang berlebihan.

Komentar: Kata-kta seperti hanya, mustahil, pasri sempurna seluruhnya, setiap, tidak ada bandingannya, luar biasa, dan kata-kata sejenis lainnya selalu menimbulkan keraguan bagi pembaca yang kritis. Waspadailah terhadap generalisasi yang terlalu luas cakupannya.

4. Waspadailah terhadap perbandingan yang tidak memenuhi persyaratan .
5. cermati logika yang tidak logis.

Komentar: kadang-kadang penulis menggunakan kalimat-kalimat dan jalan pikiran yang tidak hatihati. Kesalhan seperti itu merupakan muslihat mereka yang bermaksud mengacaukan jalan pikiran anda, dan mengaburkan permasalahan.

6. Perhatikan pernyatan yang anda baca itu secara persegi dan tidak emosional.

Komentar: serinkalli khayalan pembaca berada di antara kata-kata di atas kertas dan pemahanan atas kata-kata itu. Keadaan tersebut sangat berbahaya, sebab dengan demikian pembaca mencamkan makna-makna yang sesungguhnya tidak tertera pada halamanan yang sedang dibaca itu. Berhati-hatilah jangan sampai mencoba mencari sesuatu di dalam suatu pernyataanyang tidak ada sangkut pautnya dengan kat-kata yang ada pada baris-baris yang anda baca itu.

7. Janganlah anda menjadi bimbang karena anda mengetahui apa yang anda baca itu mesri sesuai dengan pikiran penulis.

Komentar: anda tidak usah harus selalu setuju dengan apa yang anda baaca. Namun demikian, anda dituntut untuk memahami apa yang anda itu sebaik-baiknya. Ada dua proses yang sangat berbeda sekali: yang bersifat emosional dan yang bersifat intelektual. Janganlah sekali-kali keduanya itu
dikacaukan.

C. Membaca Kreatif

Dalam dictionery of Reding (1883:72) disebutkan creative reading merupakan proses untuk mendpatkan nilai tambah dari pengetahuan yang aru yang terdapat dalam bacaan dengan cara mengintifikasi ide-ide yang menonjol atau mengkombinasikan pengetahuan yang sebelumnya
pernah didapatkan.

Dengan demikian, alam proses membaca kreatif pembaca dituntut untuk mencermati ide- ide yang dikemukakan oleh penulis kemudian membandingkannya dngan ide- ide sejenis yang mungkin berbeda-beda, baik berupa petunjuk- petunjuk, aturan- aturan atau kiat-kiet tertentu.

Menurut para, pakar tingkatan tertinggi dari kemampuan membaca seseorang adalah kemampuan kreatif . artinya, seseorang pembaca yang baik dalam melakukan membaca pada tingkatan ini tiodak hanya sekedar berusaha menangkap makna dan maksud dari bahan bacaan yang dibacanya,
tetepi juga mampu secara menerapkan hasil bacaannya untuk kepentingan meningkatakn kualitas kehidupannya. Dengan demikian, istilah kreatif di sini menurut Nurhadi (1987:13) berarti tindak lanjut seseorang setelah seseorang yang melakukan kegiayan mebacanya. Jika seseorang memabca
lalu berhenti sampai pada saat setelah ia menutup bukunya maka dirinya tidak dikatakan sebagai pembaca kreatif. Sebaliknya, jika setelah membaca, dia melakukan sktivitas yang bermanfaat bagi peningkatan kehidupannya barulah dia dikatakan sebagai pembaca kratif.

Ciri Pembaca Kreatif

Menurut Nurhadi, anda dapat dikatakan sebgai seorang pembaca kteatif anadiakan anda daat memenuhi kriteria berikut:

  1. kegiatan membaca todak berhenti sampai pada saat anda menutup buku,
  2. mampu menerapkan hasil bacaannya u ntuk kepentingan hidup sehari-hari,
  3. munculnya perubahan sikap dan tingkah laku setelah proses membaca selesai,
  4. hasil membaca berlaku sepanjan masa,
  5. mampu menilai secara kritis dan kretif bahan-bahan bacaan,
  6. mampu memecahkan masalah kehidupan seharo-hari berdasarkan hasil bacaan yang telah dibaca.

Source: http://file.upi.edu

Punya tugas sekolah atau PR yang sulit dikerjakan sendiri? Silakan tulis disini. Tugas sekolah atau PR mu akan dikerjakan oleh teman-teman yang lain yang siap membantumu dengan cepat dan smart.

Ajukan Pertanyaan
Masalah yang sering dicari:| ############################### | apa perbedaan antara membaca kritis dengan membaca kreatif | apakah oerbedaan membaca kritis dan kreatif | ciri ciri pertanyaan literal interpretatif integratif kritis keratif | Jelaskan perbedaan antara membaca kritis dan membaca kreatif! | jelaskan perbedaan antara membaca kritis dengan membaca kreatif | pengertian membaca kritis dan kreatif | Perbedaan membaca kritis dan kreatif |
(Visited 1.570 times, 2 visits today)

One thought on “Perbedaan Membaca Literat, Kritis dan Kreatif

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *