Ruang Lingkup dan Metode Sosiologi

Tahap-Tahap Produksi Buku

Posted on

TAHAP-TAHAP PRODUKSI BUKU

Setiap proses produksi buku, naskah akan selalu melalui beberapa tahap pengerjaan sebelum menjadi buku. Adapun tahap-tahap tersebut adalah:

1. Desain Buku

Desainer mempunyai peran yang besar dalam penerbitan buku. Namun, bagaimanapun bagusnya desain yang telah dibuat oleh seorang desainer, kalau pada tahap-tahap selanjutnya tidak mengikuti panutan (melalui dummy) yang telah dibuatnya, hasil akhirnya tidak sesuai dengan rencana.

2. Bahan Buku yang Dipakai

Agar pesan melalui media cetak dapat diterima oleh masyarakat maka pemilihan lambang, gambar, dan kata-kata harus disesuaikan dengan penerima. Lambang, gambar, dan kata-kata yang digunakan untuk anak akan sangat berbeda dengan untuk orang dewasa atau orang tua. Demikian juga dengan ukuran barang cetakan yang akan disebarluaskan. Patuhilah peraturan tentang ukuran yang telah berlaku untuk buku, majalah, novel, dan lain-lain. Selain itu kertas yang dipakai harus disesuaikan dengan buku yang akan diterbitkan, misalnya buku dengan gambar yang bagus, halus dan berwarna, memerlukan kertas yang halus pula (kertas cetak seni = art paper).

Kertas cetak seni menurut Leksikon Grafika adalah kertas atau karton yang salah satu atau kedua permukaannya diberi lapisan pigmen mineral; macamnya ada yang mengkilat dan ada pula yang kusam (mat); kertas cetak seni digunakan untuk mencetak raster halus.

Menurut Leksikon Grafika raster adalah pelat dari kaca bergaris-garis halus saling menyilang, atau bahan lain yang mengandung pola titik-titik yang ditempatkan di hadapan film, supaya pemotretan menghasilkan titik-titik besar kecil (titik raster) pada film menurut jumlah sinar yang melaluinya. Raster digunakan untuk mereproduksi gambar nada penuh, yaitu gambar/ model yang memuat semua nilai nada dari yang terang sampai yang gelap.

Buku dengan gambar yang kasar serta yang digunakan sekali pakai (baca) seperti novel cukup dengan menggunakan kertas yang lebih rendah mutunya. Di samping kertas, harus diperhatikan juga film dan pelat untuk reproduksi, tinta dan bahan penjilidannya. Bahan penjilidan antara lain lem, yang digunakan untuk keperluan penjilidan misalnya lem vinil (perekat yang dibuat dari bahan sintetis dan nama lengkapnya adalah polivinil asetat) benang jahit, benang kawat (gunakan yang anti karat).

3. Teknik Grafika

Dalam proses produksi buku, teknik grafika sangat mempengaruhi hasil akhir dari produksi yang dicapai. Teknik grafika sangat erat hubungannya dengan:

a. Tipografi

Yaitu cara menerapkan perpaduan seni dengan teknik menyusun huruf guna mencapai keindahan atau keserasian hingga menghasilkan mutu seni yang baik.

Untuk mendapatkan hasil yang indah dan serasi tipografi harus memenuhi persyaratan sebagai berikut:

1) Konsistensi/keseragaman dalam:

a) pemakaian huruf abjad, vokal, diftong, konsonan, dan nama diri
b) cara penulisan huruf besar dan huruf miring;
c) cara penulisan kata dasar, kata ulang, gabungan kata, kata ganti, dan kata depan;
d) cara pemakaian tanda titik, koma, titik koma, titik dua, dan lain-lain.

2) Mudah dibaca

Kemudahan dibaca sangat erat hubungannya dengan cara menghubungkan kata dengan kata atau kalimat yang meliputi:
a) jarak antara kata dengan kata;
b) penggunaan tanda baca dan tanda lainnya pada teks;
c) penerapan loncatan;
d) cara penulisan catatan (note);
e) cara penggunaan penekanan.

3) Kejelasan

Kejelasan penulisan untuk dibaca sangat tergantung pada desain huruf yang dipakai dalam teks. Hal ini berkaitan dengan:
a) penggunaan huruf miring;
b) penggunaan huruf tebal, huruf kurus, huruf lebar, dan lain-lain.

Untuk lebih jelasnya lagi harap Anda membaca buku Ejaan dalam Bahasa Indonesia diterbitkan oleh Departemen Pendidikan dan Kebudayaan,1991.

Dengan terpenuhinya ketiga syarat tersebut di atas, diharapkan unsur tipografi yang baik dapat terpenuhi.

Perlu diperhatikan bahwa pedoman menyusun huruf dengan baik dan benar harus dikuasai oleh petugas di unit reprografi yang pekerjaan sehari-harinya adalah menyusun huruf (menjadi kalimat yang diperlukan), baik yang menggunakan mesin tik listrik (IBM Composer), Komputer, maupun dengan tangan (huruf-huruf lepas yang digunakan dengan menggunakan mesin letterpress). Oleh karena itu, di percetakan-percetakan termasuk unit reprografi di perpustakaan seharusnya dibuatkan/mempunyai buku pedoman khusus bagi penyusunan huruf hingga konsistensi dapat dipertahankan.

b. Reprografi

Setelah naskah siap menjadi lay-out kerja atau siap kamera, melalui kamera reproduksi naskah yang masih dalam media kertas dipindahkan ke media film, lalu dipindahkan ke media pelat. Dalam pembuatan film dan pelat harus diperhatikan antara gambar dan kertas yang akan dipakai. Dalam hal ini perlu diperhatikan:

1) Kehitaman film (density) adalah derajat kepekaan film yang telah dikembangkan; nilainya k.o (kerapatan optik) = 0 berarti bening atau tembus cahaya; k.o = 0,3 berarti setengah cahaya datang, diteruskan; k.o = 1 hanya sepersepuluh dari cahaya datang, diteruskan.

2) Penggunaan raster (disesuaikan dengan gambar dan kertas); gambar pada kertas koran (kasar) raster yang digunakan harus mempunyai nilai 90/cm2. Arti dari 90/cm2 adalah 1 cm2 bahan raster terdapat titik halus sebanyak 90 titik. Gambar pada kalender, (kertas halus/kertas seni cetak) raster yang digunakan mempunyai nilai 100/cm2 sampai dengan 120/cm2. Artinya pada 1 cm2 bahan raster terdapat titik-titik sebanyak 100 titik atau 120 titik.

Gambar 1.5.
Raster

3) Tangga keabuan; adalah sebaris nada kelabu standar/baku; (refleksi atau transmisi) yang kehitamannya meningkat dari putih sampai dengan hitam; biasanya diletakkan di sebelah naskah asli pada waktu pemotretan dengan maksud untuk pengukuran nada-nada yang diperoleh/dihasilkan; negatif pemisahan warna dipakai untuk menentukan keseimbangan warna.

Gambar 1.6.
Tangga Keabuan

4) Toleransi densitas untuk cetak warna; artinya batas ukur untuk penambahan atau pengurangan masih diperbolehkan. Misalnya film mempunyai densiti sebesar 0.8, dengan toleransi + 10% berarti densiti yang diperbolehkan antara 0.72 sampai 0.88.

c. Percetakan

Untuk menghasilkan cetakan yang baik harap diperhatikan hal-hal di bawah ini:

1) Ketepatan cetak (register); adalah pengaturan pelat cetak sedemikian rupa sehingga hasil cetakan yang satu akan tetap berada pada letak/posisi yang benar terhadap yang lain. Misalnya jika pias antara batas kertas dan batas teks baik yang di kanan atau kiri masing-masing 2,5 cm maka hasil cetakan pada lembar pertama sampai dengan lembar ke seribu (jumlah cetakan 1.000 lembar) harus tetap sama tidak boleh berubah.

Contoh:
Anda sedang mencetak pamflet 1.000 lembar. Pamflet mempunyai pias atas 2,5 cm, bawah 3 cm, kiri 2,5 cm, dan kanan 2,5 cm. Pada waktu penyetelan mesin ofset diadakan cetak coba beberapa lembar. Kalau diukur ukuran pias belum memenuhi permintaan, penyetelan mesin ofset harus diubah hingga mendapatkan hasil ukuran pias sesuai dengan permintaan. Penyetelan ini harus tetap dijaga agar ukuran pias dari lembar pertama setelah lembar percobaan yang sesuai dengan ukuran yang dikehendaki sampai dengan lembar terakhir ukurannya tetap sama. Untuk menjaga agar tetap sama setiap 100 lembar harus disamakan ukurannya dengan lembar hasil coba, kalau ada perubahan mesin harus disetel kembali sampai tetap dengan ukuran yang diminta. Lembar coba yang ukurannya sama dengan yang dikehendaki hendaknya dijadikan lembar patokan.

2) Kestabilan warna; adalah pengaturan tinta dengan air yang seimbang, agar warna hasil cetakan tetap sama dari lembar pertama sampai dengan lembar terakhir. Di sini harus diperhatikan bahwa mesin cetak ofset menggunakan tinta dan air (penjelasan lebih lanjut pada waktu membahas percetakan).

Contoh:
Anda sedang mencetak pamflet 1.000 lembar. Pada mesin ofset diatur penyetelan tinta dan airnya. Setelah pelat dipasang, adakan cetak coba hingga menghasilkan cetakan yang bagus dan bersih. Hasil cetak coba ini harap dijadikan lembar patokan untuk membandingkan hasil cetakan lainnya apakah tinta masih sama kehitamannya dan bersih. Bila ada perubahan warna tinta pada kertas maka harus dilakukan penyetelan. tinta lagi sehingga tinta yang diterima oleh kertas rata kembali, kehitaman warna tinta pada teks sama, tidak ada yang keabuan. Untuk menjaga agar warna tetap hitam maka pada setiap 100 halaman diperiksa kehitamannya dengan mencocokkannya dengan lembar patokan.

3) Keseragaman penepat kertas; adalah alat pada mesin cetak ofset untuk mengatur letak kertas yang akan dicetak agar selalu pada posisi yang tepat.

Contoh:
Anda sedang mencetak pamflet 1.000 lembar. Kertas yang akan dicetak diletakkan pada tempat kertas. Pada tempat kertas terdapat peralatan untuk mengatur jalannya kertas agar ukuran hasil cetakan seperti yang ditentukan. Peralatan ini harus disetel dan posisinya harus tetap pada tempatnya (kencang) agar tidak berubah-ubah karena getaran perputaran mesin sehingga cetakannya selalu sama dari lembar pertama sampai dengan lembar yang ke-1.000. Perubahan biasanya terjadi karena ukuran pias tidak sama (berubah-ubah) atau pada waktu mengerjakan, warna tinta tidak tepat letaknya pada ruang yang telah disediakan. Bila terjadi perubahan maka harus dikerjakan penyetelan kembali pada penetap kertas.

d. Penjilidan

Waktu lembaran kertas telah dicetak maka lembaran tersebut harus disusun/digabung agar nomor halamannya berurutan. Selesai digabung harap dicek apakah urutan nomor halaman sesuai dengan dummy: Setelah itu gabungan tersebut dijilid agar menjadi buku. Untuk menjilid agar hasilnya baik harus diperhatikan hal-hal berikut.

1) Sistem penjilidan harus disesuaikan dengan tujuan penyebaran buku. Ada beberapa sistem penjilidan antara lain jilid keras, dan jilid lunak.
2) Benang jahit yang dipakai harus disesuaikan dengan tebal tipis katern; yaitu kertas yang telah dicetak dan sudah dilipat sedikitnya dua kali dan merupakan bagian dari sebuah buku; sebuah huruf atau angka kadang-kadang terdapat pada bagian bawah halaman pertama katern, hal ini dimaksud untuk pedoman bagi penjilidan; kadang-kadang sebuah titik atau persegi juga dicetakkan, pada bagian punggung lipatan secara berurut untuk membantu dalam penyusunan katern.
3) Perekat yang dipakai; terutama bila menggunakan jilid perekat ada beberapa macam. Bila kita menggunakan mesin jilid maka perekat yang digunakan adalah jenis perekat panas, artinya bila akan digunakan untuk merekat, perekat tersebut terlebih dahulu dipanaskan dengan mesin jilid hingga cair. Menjilid buku dengan merekatkan punggungnya biasanya menggunakan perekat vinil.

4) Kemampatan buku; agar buku mampat biasanya sebelum mengerjakan penjilidan harus dipres dahulu selama 1 sampai 2 jam atau sehari penuh. Buku yang kurang mampat waktu dipres akan mudah rusak perekatnya (tidak dapat menyatukan halaman dengan halaman).
Penjilidan akan dibahas lebih lanjut waktu membahas Penyelesaian Cetak (Modul 6).

e. Ilustrasi

Ilustrasi memegang peranan penting pada halaman buku/majalah. Ilustrasi yang baik dapat merusak keindahan halaman, bila cara penempatannya kurang sesuai. Begitu pula pada penggunaan raster untuk ilustrasi yang salah tidak sesuai dengan kertas yang dipakainya.

Ilustrasi terdiri atas beberapa macam ialah:
1) ilustrasi garis;
2) ilustrasi nada lengkap (halftone);
3) ilustrasi geometris (kubutis);
4) ilustrasi bercak-bercak (doodle);
5) ilustrasi dengan cukilan kayu (tiruan);
6) ilustrasi dengan kolase.

(Ilustrasi akan dibahas lebih lanjut pada waktu membahas Ilustrasi). Selain persyaratan yang telah disebutkan untuk mendapatkan mutu cetak yang baik, diperlukan peralatan (mesin) cetak yang memadai, serta keterampilan; kemampuan, pengetahuan, dan pengalaman operator mesin cetak.

Sumber: R. Boediardjo, Pengertian Reprografi, Komunikasi Grafika, dan Penerbitan Buku, Pustaka UT.

Punya tugas sekolah atau PR yang sulit dikerjakan sendiri? Silakan tulis disini. Tugas sekolah atau PR mu akan dikerjakan oleh teman-teman yang lain yang siap membantumu dengan cepat dan smart.

Ajukan Pertanyaan
(Visited 33 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *