Ruang Lingkup dan Metode Sosiologi

Proses Penerbitan Buku

Posted on
Make Money Online
$0.00 Start. Start in 5 mins. $3K per week. Make money from your website.
moneyonlineinvestment.com

PROSES PENERBITAN BUKU

Penerbitan buku merupakan suatu proses kegiatan untuk memperbanyak suatu hasil penulisan menjadi buku yang dapat dipasarkan dan dimiliki oleh mereka yang berminat.

Seorang pengarang/penulis tidak akan mencetak sendiri karangannya/tulisannya (biasanya disebut naskah) karena tidak mempunyai unit percetakan, dan akan mengalami kesulitan dalam pemasaran serta pembiayaannya. Karena itu pengarang menghubungi percetakan/penerbitan untuk dapat menerbitkan naskahnya. Percetakan/penerbit belum tentu dapat menerima naskah yang diberikan, karena penerbit harus mempertimbangkan besarnya modal/biaya yang akan ditanamkan dalam buku yang akan dicetak.

U Have Website We have Cash
If you have website put our banner on it, make money for each visitor
moneyonlineinvestment.com
Make Money Online
$0.00 Start. Start in 5 mins. $3K per week. Make money from your website.
moneyonlineinvestment.com

Penerbit akan menghitung biaya yang dibutuhkan untuk mencetak naskah tersebut menjadi buku. Dari biaya mencetak tersebut akan ditentukan berapa harga jual buku, termasuk biaya cetak, keuntungan, pembayaran royalti/imbalan kepada pengarang, pajak, dan lain-lain. Atau dapat juga penerbit membeli naskah dari pengarang yang berarti hak ciptanya dibeli dengan harga tertentu.

Sebelum penerbit memutuskan untuk menerima naskah yang akan diterbitkan, harus dipertimbangkan masak-masak bahwa buku yang akan diterbitkan akan laku dengan baik, harga buku, terjangkau oleh konsumen, penerbit dan percetakan mendapat keuntungan yang layak dan pengarang mendapat imbalan. Untuk mendapatkan naskah sebagai bahan yang akan diterbitkan dapat ditempuh beberapa cara antara lain:

1. pengarang menghubungi penerbit;
2. penerbit menghubungi pengarang;
3. membentuk tim penulis;
4. membeli naskah yang telah ada.

1. Penyuntingan Naskah Buku

Setelah naskah diterima penerbit, naskah diteruskan kepada penyunting. Penyunting adalah orang yang bertugas memperbaiki naskah mengenai tata bahasa, penggunaan kata-kata, cara penyajian pokok soalnya, dan lain-lain agar enak dan menarik dibaca serta mudah dipahami isinya.
Penyunting perlu berhubungan dengan pengarang bila ada yang perlu diadakan perubahan atau penyempurnaan sehingga penyunting dapat menghilangkan hambatan-hambatan antara pembaca dengan apa yang ingin

diungkapkan oleh pengarang. Penyunting juga harus memperhatikan masalah penghematan waktu dan biaya bagi perusahaan dengan menyelesaikan segala masalah sebelum naskah dikerjakan lebih lanjut di percetakan. Dengan demikian percetakan menerima naskah yang sudah bersih dan lengkap sehingga produksi berjalan dengan lancar, tanpa ada gangguan yang menghambat kelancaran kerja.

Waktu menyunting, penyunting juga menentukan ukuran buku, jenis huruf yang digunakan, kaca halaman, ilustrasi yang digunakan, dan lain-lain dengan menggunakan tanda-tanda pada setiap halaman. Bila naskah telah selesai disunting maka naskah diteruskan ke percetakan. Di percetakan sebelum diproses cetak naskah diberikan kepada pewajah (desainer). Pewajah, nantinya yang memberikan wajah dari buku yang akan diterbitkan. Memberikan wajah berarti memberikan huruf-huruf yang diperlukan, menempatkan ilustrasi yang dibutuhkan (ukuran dan warna), menentukan kertas, cara penjilidan, dan lain-lain, sesuai dengan permintaan penyunting.

2. Perwajahan

Pewajah adalah orang yang berusaha menyajikan berbagai unsur dari teks, menghubungkan dengan gambar yang dianggap perlu untuk memperjelas teks, atau sekadar hiasan, lalu menyelesaikan unsur-unsur tersebut dengan barang cetakan yang telah ditentukan, bahan yang digunakan serta proses produksi yang ditempuh.

Tujuan memberikan rancangan wajah (desain) ialah untuk menjadikan buku menarik bagi pembaca dan lebih dari itu agar menjadi best seller. Dalam tugas mendesain buku, harus diperhatikan segi penghematan tanpa mengurangi kejelasan dan mutu buku. Seorang desainer atau pewajah harus terlibat langsung dalam proses pembuatan buku, mulai dari tahap persiapan dan tahap lanjutan sampai naskah menjadi berbentuk buku. Desainer harus bekerja sama dengan penyunting, penulis dan kalau perlu dengan bagian penjualan atau pemasaran, dalam menentukan ukuran buku, bahan buku, lay-out teks, gambar dan jaket buku. Seorang desainer juga harus memberikan petunjuk yang rinci dalam penyusunan huruf, foto reproduksi, pencetakan dan penjilidan bahkan persetujuan tentang hasil cetak coba sampai menjadi contoh buku. Dengan kata lain desainer harus terjun langsung ke dapur sampai barang menjadi masak (selesai).

Di samping tugas di atas, masih ada tugas-tugas lain yang harus dikerjakan oleh seorang desainer yaitu membuat visualisasi kerangka perwajahan yang dalam bahasa Inggrisnya disebut dummy.

Sebelum mengerjakan proses produksi buku, desainer terlebih dahulu membuat dummy (kerangka perwajahan) dari buku yang akan diterbitkan.

Kerangka ini meliputi:

a. ukuran buku;
b. gambar dan huruf-huruf pada sampul yang digunakan;
c. jenis huruf-huruf yang digunakan baik untuk judul bab, subjudul, dan isi teks secara rinci;
d. menentukan ukuran dan macam kertas. Di sini desainer menentukan bahwa ukuran kertas yang digunakan adalah 80 gram atau 100 gram, artinya berat kertas ukuran 1 ´é┤ 1 m adalah 80 gram atau 100 gram sedangkan jenis kertasnya HVS, HVO, atau art paper (penjelasan mengenai kertas akan dijelaskan pada waktu membahas masalah kertas);
e. menentukan penempatan gambar dan memilih yang sesuai karena gambar adalah memperjelas isi;
f. menentukan pias (margin = halaman buku/majalah di luar ruang cetak) buku bagian atas, bawah, kiri dan kanan serta bagian tengah antara halaman nomor ganjil dan nomor genap;
g. menentukan penempatan nomor halaman;
h. nilai gambar dan ukuran yang serasi.

Semua ketentuan yang dibuat oleh desainer, dijadikan pedoman bagi bagian produksi, dan jika ada hal-hal yang perlu diadakan perubahan, harus ada persetujuan dari desainernya. Jadi, seorang desainer grafis merupakan panutan atau petunjuk dalam pelaksanaan produksi.

Dalam menyebarkan informasi melalui media cetak unit reprografi harus mengetahui siapa sasarannya agar apa yang disebarluaskan dapat diterima oleh penerimanya atau dengan kata lain dapat dimengerti dan dicerna maknanya. Jadi, desainer yang bertanggung jawab dalam mendesain terbitannya harus dapat memilih lambang, gambar dan kata-kata yang akan digunakan untuk berkomunikasi. Tujuan atau sasaran yang dituju adalah pemakai perpustakaan, biasanya masyarakat ilmuwan seperti peneliti, dosen, mahasiswa, murid SMU, administrator, dan lain-lain. Desainer dalam mendesain barang cetakannya dengan maksud agar pembaca mau menerima merangsang indera penglihatan agar menimbulkan keinginan untuk mencari informasi di perpustakaan tersebut.

(Visited 43 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *